Eksotisme Budaya Lokal di Mata Wisatawan: Antara Apresiasi dan Komodifikasi

Berselancar di media sosial sudah seperti menjadi kegiatan wajib bagi
generasi Z saat ini. Tidak jarang, ketika sedang menelusuri sosial media,
muncul unggahan-unggahan yang berkaitan dengan kebudayaan Indonesia. Tidak
jarang kita merasa kagum dengan kebudayaan yang ditampakkan dalam unggahan
tersebut.
Dalam kekaguman yang kita rasakan, ada realitas lain yang seringkali tidak
tertangkap kamera. Bahwa ternyata budaya sedang berusaha untuk menyeimbangkan
antara dihargai dan dijual.
Bayangkan suasana pagi di pantai Sanur. Warga mengenakan pakaian adat
putih, membawa sesajen, berjalan perlahan ke arah laut. Sementara itu, di tepi
pasir, wisatawan berdiri sambil memotret, memuji keindahannya, kadang tanpa
tahu apa arti prosesi itu. Bagi warga lokal, itu adalah melasti, sebuah ritual
penyucian diri menjelang Nyepi. Namun bagi wisatawan, itu merupakan momen
estetik yang wajib diabadikan.
Ketika Tradisi Menjadi Atraksi
Kita coba tarik fenomena ini melalui kebudayaan Bali yang tidak jarang
mendapat perhatian publik. Bali memang punya daya tarik yang luar biasa. Setiap
sudutnya seperti galeri hidup, tampak dari tarian, arsitektur, hingga aroma
dupa di pura. Tapi justru karena itu, budaya di sana sering kali jadi bahan
jualan utama industri wisata.
Pertunjukan tari disesuaikan jamnya biar pas sama jadwal turis. Upacara adat jadi paket tour experience. Simbol-simbol sakral dijadikan motif kaos dan gantungan kunci. Lama-lama muncul sebuah pertanyaan, apakah kita sedang mengapresiasi atau mengkomodifikasi budaya?

Apresiasi Nggak Selalu Salah, Tapi...
Biar adil, kita juga harus akui bahwa wisata budaya punya banyak sisi
positif. Banyak anak muda Bali sekarang bangga tampil dengan pakaian adat,
belajar menari, bahkan membuka usaha kriya yang mengangkat identitas lokal.
Turis yang datang bisa jadi jembatan untuk memperkenalkan tradisi ke dunia.
Tapi masalahnya muncul saat budaya hanya dilihat dari luarnya saja,
seperti aspek kecantikan, keunikan, dan eksotik. Layaknya seseorang yang hanya
jatuh cinta karena paras, tapi tidak pernah mencoba untuk mengenalnya lebih
dalam. Maka dari sini kita seharusnya tidak hanya berhenti pada apresiasi yang
tampak di depan mata, tapi kita juga harus memahami makna di balik kebudayaan
yang tampak indah di depan mata.
Sebuah Refleksi Kecil untuk Kita Semua
Kita bisa menikmati, tapi juga menghormati. Kita bisa kagum, tapi juga
sadar bahwa di balik setiap tarian, sesajen, dan dupa yang mengepul, ada kisah
panjang tentang keyakinan, sejarah, dan manusia. Jadi, lain kali kalau kamu
jalan-jalan ke Bali atau melihat kebudayaan nusantara, coba sesekali turunkan
kamera. Lihat lebih lama. Dengarkan lebih dalam. Karena kadang, keindahan
sejati bukan ada di layar, tapi di makna yang kita pahami.
Penulis: Angga Dwi Permadi (S1 Sastra Indonesia)
Editor: Moh. Ibnu kandiyas (S1 Teknik Informatika)
Share It On: