Dari Pembabatan Hingga Peluruhan: Majapahit dalam Tiga Babak
Siapa sangka, di balik nama jalan, tugu, hingga lambang negara Indonesia, tersimpan jejak sebuah kerajaan besar yang pernah menguasai hampir seluruh penjuru Nusantara: Majapahit.
Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dan terkuat dalam sejarah Indonesia pada masa Hindu-Buddha. Berdasarkan temuan arkeologis, ibu kota Majapahit diyakini berada di wilayah Mojokerto, Jawa Timur. Berdiri sejak tahun 1293 hingga 1527, Majapahit menyisakan jejak yang hidup hingga saat ini.
Pada perjalanan sejarahnya, Majapahit mengalami tiga masa penting yang mencerminkan dinamika sosial dan kondisi politik pada saat itu: Masa Pembabatan, Masa Kejayaan, dan Masa Peluruhan.
Masa Pembabatan (1293–1389)
Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada 12 November 1293. Ia adalah putra Dyah Lembu Tal, keturunan dari pasangan legendaris Ken Arok dan Ken Dedes. Awal berdirinya kerajaan ini dimulai dengan pembukaan Hutan Tarik yang dilakukan Raden Wijaya bersama para pengikutnya. Raden Wijaya wafat, tahta dilanjutkan oleh putranya: Jayanegara, pada tahun 1309. Meski sempat menghadapi sejumlah pemberontakan, masa ini menjadi awal pertumbuhan Majapahit. Setelah Jayanegara wafat pada tahun 1328, tahta berpindah ke tangan Tribhuwana Tunggadewi adik tiri Jayanegara, yang kemudian mengangkat Gajah Mada sebagai Patih. Di sinilah titik awal jalan menuju masa kejayaan Majapahit dimulai.
Masa Kejayaan (1350–1389)
Puncak kejayaan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk yang dimulai pada tahun 1350. Didampingi oleh Patih Gajah Mada, wilayah kekuasaan Majapahit meluas hingga hampir seluruh Nusantara. Hayam Wuruk dikenal sebagai pemimpin yang memperhatikan kesejahteraan rakyat dan menjalankan pemerintahan dengan tertib. Ia aktif menjalin hubungan dengan wilayah-wilayah di bawah kekuasaan Majapahit, membangun infrastruktur, serta menjunjung tinggi toleransi beragama dan menegakkan hukum secara adil.
Masa Peluruhan (1389–1527)
Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran. Konflik internal mengenai perebutan kekuasaan dan hak waris dalam keluarga kerajaan melemahkan stabilitas pemerintahan. Rasa persatuan kerajaan memudar, menyebabkan perpecahan yang terus membesar. Kondisi ini membuat Majapahit perlahan kehilangan pengaruh dan akhirnya runtuh pada tahun 1527.
Dari Majapahit, kita belajar bahwa persatuan, kepemimpinan yang bijak, dan semangat membangun bangsa adalah fondasi dari sebuah peradaban. Dari Majapahit pula kita belajar bahwa peradaban akan rusak apabila keegoisan menjadi hal yang diutamakan.
Referensi:
Ardan, Farel. (2021). Sejarah Berdirinya Majapahit. https://mediaindonesia.com/humaniora/451435/sejarah-berdirinya-kerajaan-majapahitgoog_rewarded
Direktori Majapahit. (n.d). Sejarah Kerajaan Majapahit. https://direktorimajapahit.id/halaman/sejarah-kerajaan-majapahit.
Haryono, Timbul. (1997). Kerajaan Majapahit: Masa Sri Rajasanagara sampai Girindrawarddhana. https://journal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1902/1707
Nurhasana, Regita Putri., Seprina, Reka. (2024). Kerajaan Majapahit: Awal Masa Kejayaan Sampai Masa Keruntuhan dan Peninggalannya. https://sejurnal.com/pub/index.php/jkii/article/view/1784/2053
Sang, Siwi. (2016). Identifikasi Dyah Lembu Tal Berdasarkan Prasasti Mula Malurung 1255M. Kompasiana.com: https://www.kompasiana.com/siwisang/56f26c812f7a61cd0859ab9d/identifikasi-dyah-lembu-tal-berdasarkan-prasasti-mula-malurung-1255m?page=all&page_images=1#goog_rewarded
https://siwisang.wordpress.com/wp-content/uploads/2016/06/edit-silsilah-pararaja-majapahit.pdf
Penulis: Mutiara Rahma Dewi Al Asadi (S-1 Sastra Indonesia)
Dokumentasi: M. Nur Chandra Al Firdaussy (SMK NU Bahrul Ulum, Jurusan Desain Komunikasi Visual)
Editor: Moh. Ibnu Kandiyas (S1 Teknik Informatika)
Share It On: