Sindenesa: Kompetisi Sinden Unesa Siap Antar 2 Finalis Menuju Sinden Idol Unnes
SURABAYA, PUISB Unesa – Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Seni Budaya Unesa menggelar kompetisi sinden yang bertajuk Sindenesa 2025 pada Jumat, 9 Mei 2025. Kompetisi yang diselenggarakan di Graha Pertunjukan Sawunggaling Unesa ini diikuti oleh sepuluh peserta yang berasal dari benerapa kota.
Kompetisi ini diadakan dengan tujuan melestarikan kesenian Jawa khususnya di dunia tembang atau sinden dengan menargetkan perempuan usia di bawah 25 tahun, PUI Seni Budaya Unesa berhasil mendapatkan 6 pemenang. 3 juara harapa dan 3 juara utama.
Menariknya, selain mendapatkan sertifikat dan uang tunai, pemenang juara 1 dan 2 mendapatkan golden ticket yang nantinya akan dikarantina untuk mengikuti kompetisi Sinden Idol yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Semarang.
Para sinden ini tak hanya dinilai dari suara dan artikulasinya saja, terdapat beberapa kriteria pengamat untuk memutuskan siapa saja yang berhak membawa pulang gelar juara. Di antaranya, keterampilan dalam menguasai materi tembang, keterampilan dalam pengambilan timing atau waktu dalam memasuki bagian-bagian tembang, serta tata krama mereka saat di panggung.
Nengky Tyasmara, mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Daerah Unesa dengan bangganya membawa pulang gelar juara 1 pada kompetisi Sinden Sindenesa 2025. Sempat meragukan diri karena saingan yang berat dan terdapat kendala teknis saat penampilan, Nengky tidak menyangka membawa golden ticket Sinden Idol 2025.
“Sempat panik karena di tengah menyanyikan tembang tiba-tiba diberhentikan. Saya pikir ada kesalahan di penampilan saya, ternyata ada kesalahan teknis di microphonenya gendang,” ungkap Nengky Tyasmara.
Melalui acara ini, Puji Astuti S.Sn selaku pengamat dalam kompetisi Sinden Sindenesa 2025 berharap generasi muda tidak malu terhadap budayanya sendiri.
“Budaya kita, khususnya Budaya Jawa ini sangat-sangat wajib kita lestarikan. Semoga, para generasi muda khususnya Gen Z tidak malu mengakui kebudayaan kita sendiri,” ujar Puji Astuti S.Sn.
Tak hanya dinilai oleh pengamat senior, kompetisi ini juga mendatangkan pengamat dari generasi muda, yakni Dhea Ahmanda Putri. Sebagai Gen Z, Dhea merasa sudah menjalankan kewajibannya, yakni melestarikan kebudayaannya.
“Tiktok menjadi salah satu sarana yang sangat berpengaruh bagi budaya. Kita bisa melestarikan kebudayaan dan kesenian melalui konten-konten tiktok,” papar Dhea Ahmanda Putri.
Reporter: Ratih Iska Azhari (S1 Sastra Indonesia)
Foto: Tamblika Suryo Laksono Witjaksono (S1 Desain Komunikasi Visual), M. Fakhri Ar Rizky (S1 Desain Komunikasi Visual), Aqila Sabrina (S1 Desain Komunikasi Visual), M. Nur Chandra Al Firdaussy (SMK NU Bahrul Ulum, Jurusan Desain Komunikasi Visual)
Editor: Rokib
Share It On: