World Dance Day 2026 UNESA: Estafet Tari Seharian Libatkan 30+ Komunitas
Perayaan World Dance Day 2026 atau Hari Tari Sedunia di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada 27 April 2026 tetap berlangsung dengan meriah meskipun secara global diperingati setiap 29 April. Antusiasme peserta dan penonton terlihat sejak awal hingga akhir rangkaian acara.
Perayaan dibuka dengan flashmob lintas tarian Nusantara oleh puluhan penari dari perwakilan panitia penyelenggara yang memenuhi halaman Gedung Sawunggaling, Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Tahun ini, perayaan mengusung konsep estafet tari yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 22.00 WIB. Lebih dari 30 sanggar dan komunitas serta lebih dari 26 penari solo yang tampil bergantian tanpa jeda, membentuk alur pertunjukan yang berkesinambungan.
Pembina UKM Tari, Sekar Alit Santya Putri, S.Pd., M.Sn., menyebut konsep ini sebagai salah satu upaya menjaga keberlanjutan praktik tari lintas generasi. “Energi dalam tari harus terus diestafetkan, tidak berhenti pada satu generasi saja,” ujarnya.
Beberapa saat setelah pemukulan gong, estafet tari dimulai dengan pengalungan ronce melati kepada penari pertama, Dr. I Nengah Mariasa, M.Hum, yang membawakan Tari Topeng Tua atau Tari Werda Lumaku. Penampilan berlanjut secara berkesinambungan, termasuk Riyan Biyan Agung yang menampilkan Tari Golek Lambangsari Wetah.

Di tengah rangkaian acara, pembukaan simbolis dilakukan melalui pemotongan tumpeng oleh jajaran dosen program studi Sendratasik (seni drama, tari, dan musik) sebagai bentuk tasyakuran. Pertunjukan tari tetap berlangsung tanpa jeda selama prosesi tersebut.
Selain estafet tari, kegiatan ini juga menghadirkan workshop tari Topeng Bapang oleh seniman dari Malang yang diikuti mahasiswa Sendratasik. Rangkaian acara turut diramaikan penampilan komunitas tari lintas usia serta sesi battle dance yang mempertemukan berbagai gaya tari dalam satu arena.
Kepala Pusat Unggulan IPTEK Seni Budaya Majapahitan UNESA, Prof. Dr. Trisakti, M.Si., menilai konsep estafet membawa pendekatan baru dalam peringatan Hari Tari Dunia. Ia menyoroti pengaruh budaya Majapahit dalam perkembangan tari serta pentingnya pemanfaatan modernitas untuk pelestarian.
Sementara itu, Wakil Rektor I, Prof. Dr. Martadi, M.Sn., menegaskan bahwa tari tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai media ekspresi, komunikasi, dan promosi budaya.

Reporter: Salwa Azzahra Kurniawan (S1 Sastra Inggris), Firda Aulia Zahro (S1 Sastra Inggris)
Dokumentasi: Tim Magang PUI SBM Unesa
Share It On: